Katanya gempa semalam? Begitu banyak Allah kasih kita petunjuk untuk lebih dekat denganNya. Bukan jadi candaan.
Segala istilah corona dijadikan lelucon, kuliner dinamai corona, jaga jarak dijadikan candaan, masker mahal, APD jarang semua dijadikan meme.
Inilah saatnya kita diberi "libur". Saat yang seharusnya lebih banyak introspeksi diri. Saat ini tak boleh ibadah di mesjid. Ini teguran keras dariNya. Mungkin saat kita diberi keleluasaan beribadah di rumah Allah, FB, IG, WA dan twitteran lebih menarik. Kalaupun ibadah di rumah selalu dilakukan diakhir waktu. Berjam-jam mengintip aktifitas terbaru sahabat di sosmed lebih menarik dibanding tilawah. Lebih banyak paketan data dari pada sedekah. Lebih senang mencuci batin ke mall dari pada ke majelis ilmu.
Memandang segala sesuatu dari perspektif negatif. Silang pendapat kerap terjadi. Kitalah yang paling benar, tak pernah ada yang benar dimata kita.
Ibadah dipamer, sedekah seiprit diumbar, maksiat dipendam dalam-dalam.
Begitu banyak kesalahan kita Ya Allah. Ampuni kami, bekal kami belum cukup menghadapMu. Percayakan kami untuk menjemput RamadhanMu. Istiqamahkan kami bukan hanya saat bulan suci.
Gempa, likuifaksi, tsunami belum hilang dari ingatan. Masih tampak bekasnya di depan mata. Saat ini makhluk paling renik tak kasat mata menguasai dunia. Melumpuhkan segala aktifitas. Hal yang biasanya bebas dilakukan menjadi kurang leluasa. Perekonomian menurun. Mereka yang terpaksa bekerja di luar, rela terpapar oleh virus.
Masih belum cukupkah peringatan ini?Masih mau dijadikan bahan candaan?
Astaghfirullah.
Self reminder.***
29/03/2020, 04 Syaban 1441 H, 25 hari jelang Ramadhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar