Sabtu, 01 Agustus 2020

KURIKULUM SEDERHANA NAMUN BERMAKNA (Tugas akhir KMA OP 23)

KURIKULUM SEDERHANA NAMUN BERMAKNA

Sriyanti Ladiku, SP – Guru SMK Negeri 3 Sigi

Pembelajaran di tahun ajaran baru telah dimulai, pembelajaran melalui daring maupun pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat membayangi proses kegiatan belajar mengajar.  Ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan oleh guru selaku pengajar terutama perihal ketercapaian kurikulum.

Hal ini tentu dibutuhkan pemikiran dari pemangku kebijakan, sehingga pendidik sebagai pelaksana di tingkat sekolah memiliki kompas seperti apa ketercapaian kurikulum yang diharapkan.  Sehubungan dengan hal ini pada video konferensi tanggal 24 Juni 2020 seperti dilansir pada Bisnis.com melalui Plt Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud telah menegaskan bahwa segala model pembelajaran di masa pandemi ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah sebagai pelaksana di garda terdepan dunia pendidikan.  Beliau berpesan bahwa penyesuaian kurikulum dan ketuntasan belajar disesuaikan dengan konsep merdeka belajar. Juga menilik penyampaian Mendikbud Nadiem Makarim yang dimuat dalam media Republika.co.id tanggal 02 Juli 2020, beliau menegaskan bahwa kurikulum di masa pandemi menekankan pada tiga prioritas yakni literasi, numerasi dan pendidikan karakter.

Mengacu dari hal tersebut di atas saya berpendapat bahwa dalam pencapaian kurikulum, Kemendikbud memberikan peluang seluas-luasnya kepada pihak sekolah untuk menyesuaikan kurikulum.  Penyesuaian kurikulum tanpa mengurangi esensi dari tiap Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).  Memilah dan memodifikasi jenis kompetensi dasar untuk disusun menjadi lebih sederhana namun tetap bermakna.

Hal itu karena dalam pencapaian kurikulum dengan belajar daring maupun luring, dapat diterapkan melalui model pembelajaran bermakna yang lebih difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup.  Pola-pola penyederhanaan kurikulum tentu tak luput dari pertimbangan karakteristik peserta didik dan kesenjangan fasilitas belajar yang dimiliki siswa.  Bagi kami yang mengajar pada jenjang SMK yang lebih menekankan pada kemampuan skill para siswa, tentu harus lebih kreatif meramu penyederhanaan kurikulum ini.  Bagaimana siswa mampu melakukan praktek hanya dari video-video pembelajaran yang dibagikan oleh guru atau memanfaatkan media internet.  Mengkolaborasikan antar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain yang sekiranya dapat terintegrasi satu sama lain.

Kolaborasi antar mata pelajaran dalam pelaksanaannya tentu disusun dalam suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Jika di semester lalu pelaksanaan pembelajaran mendadak menyesuaikan kondisi lapangan seiring datangnya pandemi, maka semester ini guru harus mempersiapkan RPP dengan lebih matang walau sederhana.  Baik isi, model, sumber belajar dan bentuk penilaian.  Penyederhanaan RPP seiring dengan kebijakan Mendikbud dalam menyikapi administrasi guru, RPP selembar yang marak sebelum pandemi.

Sebagai contoh kolaborasi mata pelajaran, pada Program Studi Agribisnis Tanaman, pelajaran kejuruan dapat dikolaborasi dengan pelajaran matematika, kimia, biologi, PKn, pendidikan agama dan Prakarya Kewirausahaan.  Para siswa bisa melaksanakan praktek penanaman dari rumah seperti budidaya tanaman dengan hidroponik.  Untuk mata pelajaran kejuruan tentu penilaian dititikberatkan pada kecakapan siswa melaksanakan budidaya hidroponik.  Guru matematika dapat menilai dari segi kognitif siswa yakni menghitung konversi jumlah nutrisi yang diberikan pada larutan hidroponik.  Demikian halnya dengan pelajaran kimia dapat menilai dari segi pemahaman siswa tentang kandungan kimia pada nutrisi AB mix, termasuk cara membuat larutan dengan perhitungan konsentrasi, volume dan pengenceran.  Pelajaran biologi dapat menilai proses perkembangbiakan atau pertumbuhan dan perkembanganPKn dan PAI lebih menitikberatkan pada penilaian sikap dan karakter.  Memupuk jiwa wirausaha untuk pelajaran Prakarya dan kewirausahaan.

Pemanfaatan bahan ajarpun tak luput dari perhatian guru.  Memaksimalkan penggunaan LKS maupun modul sebagai bahan ajar luring dapat dikombinasi dengan media pembelajaran secara daring melalui media digital.  Sehingga ketercapaian kurikulum walau dipersempit tetap dapat diperoleh.  Menyikapi hal ini, guru tak tinggal diam.  Guru begitu kreatif dan berinovasi dalam model pembelajaran.  Guru menjadi guru pembelajar di masa pandemi.  Dimana-mana terlihat para guru begitu bersemangat mempelajari aneka fitur-fitur pembelajaran daring.  Ini menandakan betapa siapnya guru menghadapi pembelajaran dimasa pandemi, demi mendampingi siswanya mencapai kompetensi sesuai yang tertuang dalam kurikulum.

Peran orang tua tak luput diperhitungkan.  Bentuk koordinasi yang dilakukan oleh pihak sekolah pada awal tahun ajaran baru, memberi gambaran bahwa orang tua sangat mendukung segala bentuk pembelajaran selama masa pandemi baik daring, luring ataupun kombinasi keduanya.  Para orang tua tetap berharap kunjungan secara berkala kepada siswa tetap dilakukan, untuk mengimbangi kesenjangan dalam hal fasilitas gawai maupun internet. 

Merdeka belajar seperti digaungkan oleh Mas Menteri terlihat dari adanya peran guru dan sekolah dalam mengolah dan meramu kurikulum menjadi sajian bergizi bagi siswa.  Rasa hambar akibat kendala fasilitas, jaringan, maupun kondisi demografi tak menyurutkan niat suci guru mengantarkan anak didiknya ke gerbang masa depan bagaimanapun kondisinya.  Pesan beliau bahwa pembelajaran di masa pandemi tanpa terbebani menuntaskan kurikulum.  Namun bukan berarti guru melayani tanpa mutu.  Tak bijak rasanya diberi peluang menyederhanakan tanpa pembaruan bermakna. 


***************************syl27072020************************************


Penulis adalah salah satu kontributor dalam buku antologi KMA OP 23 SGSI yang diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia Kota Bogor.  Buku ini disusun dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2020/2021, dengan tema "Kurikulum Darurat covid-19."  Disusun oleh guru dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam kelas menulis opini pendidikan yang digelar secara online oleh Tim SGSI (Sahabat Guru Super Indonesia). 

Buku ini adalah buku ketiga yang kami susun selama masa pandemi covid-19, setelah buku pertama "Dilema Pembelajaran Jarak Jauh" https://sriyantiladiku.blogspot.com/2020/04/pembelajaran-daring-apakah-sebuah-solusi.html?m=1 dan buku kedua dengan tajuk "Untung Rugi Pembelajaran Daring" https://sriyantiladiku.blogspot.com/2020/06/untung-rugi-belajar-daring-tugas-akhir.html?m=1

Semoga apa yang kami torehkan dalam buku ini membawa manfaat untuk sahabat guru dimana pun berada. Salam Literasi.