KURIKULUM SEDERHANA NAMUN BERMAKNA
Sriyanti
Ladiku, SP – Guru SMK Negeri 3 Sigi
Pembelajaran di tahun ajaran baru telah dimulai, pembelajaran
melalui daring maupun pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang
ketat membayangi proses kegiatan belajar mengajar. Ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan
oleh guru selaku pengajar terutama perihal ketercapaian kurikulum.
Hal ini tentu dibutuhkan pemikiran dari pemangku kebijakan, sehingga pendidik sebagai pelaksana di tingkat sekolah memiliki kompas
seperti apa ketercapaian kurikulum yang diharapkan. Sehubungan dengan hal ini pada video
konferensi tanggal 24 Juni 2020 seperti dilansir pada Bisnis.com melalui Plt
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud telah menegaskan bahwa segala
model pembelajaran di masa pandemi ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak
sekolah sebagai pelaksana di garda terdepan dunia pendidikan. Beliau berpesan bahwa penyesuaian kurikulum
dan ketuntasan belajar disesuaikan dengan konsep merdeka belajar. Juga menilik penyampaian
Mendikbud Nadiem Makarim yang dimuat dalam media Republika.co.id tanggal 02
Juli 2020, beliau menegaskan bahwa kurikulum di masa pandemi menekankan pada
tiga prioritas yakni literasi, numerasi dan pendidikan karakter.
Mengacu dari hal tersebut di atas saya berpendapat
bahwa dalam pencapaian kurikulum, Kemendikbud memberikan peluang seluas-luasnya
kepada pihak sekolah untuk menyesuaikan kurikulum. Penyesuaian kurikulum tanpa mengurangi esensi
dari tiap Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Memilah dan memodifikasi jenis kompetensi dasar
untuk disusun menjadi lebih sederhana namun tetap bermakna.
Hal itu karena dalam pencapaian kurikulum dengan
belajar daring maupun luring, dapat diterapkan melalui model pembelajaran
bermakna yang lebih difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. Pola-pola penyederhanaan kurikulum tentu tak
luput dari pertimbangan karakteristik peserta didik dan kesenjangan fasilitas
belajar yang dimiliki siswa. Bagi kami
yang mengajar pada jenjang SMK yang lebih menekankan pada kemampuan skill para siswa, tentu harus lebih kreatif
meramu penyederhanaan kurikulum ini.
Bagaimana siswa mampu melakukan praktek hanya dari video-video
pembelajaran yang dibagikan oleh guru atau memanfaatkan media internet. Mengkolaborasikan antar satu mata pelajaran
dengan mata pelajaran lain yang sekiranya dapat terintegrasi satu sama lain.
Kolaborasi antar mata pelajaran dalam pelaksanaannya
tentu disusun dalam suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Jika di semester lalu pelaksanaan
pembelajaran mendadak menyesuaikan kondisi lapangan seiring datangnya pandemi,
maka semester ini guru harus mempersiapkan RPP dengan lebih matang walau
sederhana. Baik isi, model, sumber
belajar dan bentuk penilaian.
Penyederhanaan RPP seiring dengan kebijakan Mendikbud dalam menyikapi
administrasi guru, RPP selembar yang marak sebelum pandemi.
Sebagai contoh kolaborasi mata pelajaran, pada
Program Studi Agribisnis Tanaman, pelajaran kejuruan dapat dikolaborasi dengan
pelajaran matematika, kimia, biologi, PKn, pendidikan agama dan Prakarya
Kewirausahaan. Para siswa bisa
melaksanakan praktek penanaman dari rumah seperti budidaya tanaman dengan
hidroponik. Untuk mata pelajaran
kejuruan tentu penilaian dititikberatkan pada kecakapan siswa melaksanakan budidaya
hidroponik. Guru matematika dapat
menilai dari segi kognitif siswa yakni menghitung konversi jumlah nutrisi yang
diberikan pada larutan hidroponik.
Demikian halnya dengan pelajaran kimia dapat menilai dari segi pemahaman
siswa tentang kandungan kimia pada nutrisi AB mix, termasuk cara membuat
larutan dengan perhitungan konsentrasi, volume dan pengenceran.
Pelajaran biologi dapat menilai proses perkembangbiakan atau pertumbuhan
dan perkembangan.
PKn dan PAI
lebih menitikberatkan pada penilaian sikap dan karakter. Memupuk jiwa wirausaha untuk pelajaran
Prakarya dan kewirausahaan.
Pemanfaatan bahan ajarpun tak luput dari perhatian
guru. Memaksimalkan penggunaan LKS
maupun modul sebagai bahan ajar luring dapat dikombinasi dengan media
pembelajaran secara daring melalui media digital. Sehingga ketercapaian kurikulum walau
dipersempit tetap dapat diperoleh.
Menyikapi hal ini, guru tak tinggal diam. Guru begitu kreatif dan berinovasi dalam
model pembelajaran. Guru menjadi guru
pembelajar di masa pandemi. Dimana-mana
terlihat para guru begitu bersemangat mempelajari aneka fitur-fitur
pembelajaran daring. Ini menandakan
betapa siapnya guru menghadapi pembelajaran dimasa pandemi, demi mendampingi
siswanya mencapai kompetensi sesuai yang tertuang dalam kurikulum.
Peran orang tua tak luput diperhitungkan. Bentuk koordinasi yang dilakukan oleh pihak sekolah pada awal tahun ajaran baru, memberi gambaran bahwa orang tua sangat mendukung segala bentuk pembelajaran selama masa pandemi baik daring, luring ataupun kombinasi keduanya. Para orang tua tetap berharap kunjungan secara berkala kepada siswa tetap dilakukan, untuk mengimbangi kesenjangan dalam hal fasilitas gawai maupun internet.
Merdeka belajar seperti digaungkan oleh Mas Menteri terlihat dari adanya peran guru dan sekolah dalam mengolah dan meramu kurikulum menjadi sajian bergizi bagi siswa. Rasa hambar akibat kendala fasilitas, jaringan, maupun kondisi demografi tak menyurutkan niat suci guru mengantarkan anak didiknya ke gerbang masa depan bagaimanapun kondisinya. Pesan beliau bahwa pembelajaran di masa pandemi tanpa terbebani menuntaskan kurikulum. Namun bukan berarti guru melayani tanpa mutu. Tak bijak rasanya diberi peluang menyederhanakan tanpa pembaruan bermakna.
***************************syl27072020************************************
Penulis adalah salah satu kontributor dalam buku antologi KMA OP 23 SGSI yang diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia Kota Bogor. Buku ini disusun dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2020/2021, dengan tema "Kurikulum Darurat covid-19." Disusun oleh guru dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam kelas menulis opini pendidikan yang digelar secara online oleh Tim SGSI (Sahabat Guru Super Indonesia).
Buku ini adalah buku ketiga yang kami susun selama masa pandemi covid-19, setelah buku pertama "Dilema Pembelajaran Jarak Jauh" https://sriyantiladiku.blogspot.com/2020/04/pembelajaran-daring-apakah-sebuah-solusi.html?m=1 dan buku kedua dengan tajuk "Untung Rugi Pembelajaran Daring" https://sriyantiladiku.blogspot.com/2020/06/untung-rugi-belajar-daring-tugas-akhir.html?m=1
Semoga apa yang kami torehkan dalam buku ini membawa manfaat untuk sahabat guru dimana pun berada. Salam Literasi.
