Sabtu, 25 April 2020

Pembelajaran Daring Apakah Sebuah Solusi?


Saya ingin sekali menulis tentang Pembelajaran Jarak Jauh.  Saya rasa ini penting karena mengingat ini adalah salah satu alternatif solusi pembelajaran saat ini.  Saat dimana kita diharuskan melakukan semuanya dari rumah.  Untuk memutus penyebaran virus Covid-19.  Jadi sejak pemerintah pusat mengeluarkan surat keputusan bahwa semua kegiatan dilakukan dari rumah, maka otomatis kegiatan  belajar mengajar pun mau tidak mau harus dilakukan tanpa adanya tatap muka.


Salah satu pembelajaran jarak jauh yang memang menjadi anjuran pemerintah adalah dengan metode daring.  Pertemuan tatap muka dapat digantikan dengan aplikasi setara Zoom Cloud dan Cisco Webex.  Fitur-fitur pada Google Classroom, Quipper, Google Form atau Socrative bisa dijadikan media untuk mentransfer materi sekaligus memberikan evaluasi.  Quizizz dan Educandy dapat dimanfaatkan sebagai ice breaking sebagai antisipasi agar siswa tak bosan belajar daring.  Komunikasi dapat diatur melalui chat WhatsApp atau Telegram.  Begitu banyak aplikasi yang siap digunakan dalam rangka menunjang kegiatan pembelajaran daring menemani masa-masa social distancing.


Metode daring menuntut kesiapan guru, siswa dan orang tua.  Hal ini tentu tidak berlaku bagi sebagian guru yang selalu mengupgrade diri.  Berbagai pelatihan daring dengan inovasi-inovasi media pembelajaran, tentulah bukan masalah bagi guru yang selalu mempersiapkan diri menerima perkembangan teknologi.  Sejumlah lembaga non formal menawarkan diklat-diklat daring.  Semua itu untuk meningkatkan kompetensi dan pengembangan guru di bidang teknologi.


Bagi siswa hal memainkan gadget merupakan makanan sehari-hari.  Mereka tak lagi canggung mempelajari fitur-fitur baru yang disodorkan oleh gurunya dalam pembelajaran daring.  Sumber belajar tak hanya dari guru.  Siswa bebas berselancar mencari dan mempelajari topik-topik materi hanya lewat genggaman.


Peran orang tua selain ikut mendampingi putra-putrinya, yang paling utama adalah menyiapkan fasilitas mulai dari gadget, laptop sampai wifi atau paketan data.  Demi mendukung pembelajaran jarak jauh.  Bagi orang tua yang terbiasa dengan alat komunikasi berbasis android tentu mudah menyesuaikan.


Untuk masa seperti saat ini, teknologi sangat mudah dicerna oleh mereka yang memang memiliki segala fasilitas. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan guru yang sudah terbiasa dengan cara konvensional atau para guru senior?  Adakah kesulitan menghadapi pembelajaran daring dengan minimnya kemampuan teknologi mereka?  Teknologi bagi mereka sekedar pemanis kehidupan menunggu masa pensiun.  Alat komunikasi hanya sekedar asal bisa menelpon atau SMS.


Mungkin kita pun harus menengok sedikit ke sebagian sekolah yang jauh dari akses internet.  Siswa yang bersekolah di pedalaman atau pedesaan yang tidak memiliki fasilitas penunjang pembelajaran daring.  Situasi ekonomi keluarga yang pas-pasan.  Jangankan gadget mereka bisa sekolah saja sudah syukur.


Kondisi ini juga menambah keprihatinan jika kita melihat latar belakang lingkungan siswa.  Lingkungan sosial yang tak mendukung kegiatan pendidikan.  Anak yang dipekerjakan untuk membantu kebutuhan keluarga, anak yang tidak memiliki orang tua utuh, kepasrahan orang tua dengan keadaan anaknya yang tidak belajar berminggu-minggu dan kehidupan sosial lainnya.  Akan menambah mirisnya pembelajaran jarak jauh.


Pembelajaran konvensional dengan adanya tatap muka langsung antara siswa dengan guru bukan tak memiliki kelebihan.  Adanya interaksi guru dan siswa dapat membangun hubungan emosional tersendiri.  Dengan melihat contoh secara langsung, mimik sang guru dalam mengantarkan materi, pola tingkah laku kala melakukan sejumlah praktek seni, dapat terekam langsung ke memorinya.  Umpan balik terhadap hasil pekerjaan yang diungkapkan secara verbal akan menambah rasa percaya diri siswa.  Kedekatan akibat adanya pertemuan tatap muka setiap hari, membuat siswa bagai menemukan chemistry dengan sang guru sebagai orang tua kedua.


Meskipun penerapan metode daring memiliki berbagai kendala, bukan berarti metode ini tak memiliki kelebihan.  Dengan segala kelebihan metode daring, guru dan siswa serasa diuntungkan.  Guru makin melek teknologi. Guru dan siswa makin kreatif memanfaatkan berbagai aplikasi pembelajaran.  Guru tidak terbebani dengan tugas memeriksa pekerjaan siswa secara manual.  Sekali klik aplikasi siap menjalankan perintah.


Hal ini tentu harus ditunjang dengan ketersediaan gadget sebagai penyambung komunikasi sekaligus media pembelajaran jarak jauh, kestabilan jaringan internet sebagai pendukung utama kegiatan daring, kecakapan guru menguasai fitur-fitur aplikasi dan keterampilan meramu materi menjadi pembelajaran daring.  Selanjutnya kesiapan siswa beradaptasi dengan cara belajar yang baru.  Juga dukungan orang tua yang harus siap setiap saat memenuhi kuota internet sang anak.


Sebagai guru kita menyadari bahwa setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan.  Namun gurulah yang meramu seperti apa metode dan model pembelajaran yang akan ditampilkan di depan siswanya.  Dengan tak mengesampingkan karakteristik siswa yang diajar.  Sejatinya esensi belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan.  Namun mengajar adalah memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik, pembentukan kepribadian dan karakter, bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan.


-------------------------------24042020syl--------------------------------




Penulis adalah salah satu kontributor naskah dalam Buku 1- Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan (KMA OP 21), SGSI.

Kamis, 23 April 2020

Pengampu yang Bermartabat

Keinginan belajar menulis yang sudah lama ingin diwujudkan kemudian seperti gayung bersambut ketika melihat sebuah channel di telegram.  Sebuah channel yang berisi grup pelatihan online yang didalamnya terdapat kelas menulis yakni grup Sahabat Guru Super Indonesia (SGSI).  Melalui sahabat Kak Ros (Rubaida Rose) lalu membawa saya ke grup KMA OP 18.  Disinilah pertama kali saya kenal dengan Master Eka Wardana.  Pengampu Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan.

Memasuki kelas yang sudah mulai, sejatinya sebagai murid baru harus menyesuaikan diri.  Saya terlambat memasuki kelas KMA OP 18 yang rupanya kelas sudah dimulai sehari sebelum saya bergabung. Permintaan maaf pun saya layangkan ke grup sembari memperkenalkan diri.  Mencoba menanyakan materi di kelas.  Mengira bahwa kelas ini seperti kelas-kelas online lainnya yang pernah diikuti, dimana materi sering disertakan didalamnya.  Pesan tersemat dan chat sebelumnya pun tak nampak di ponsel.  Sampai beberapa sahabat yang baik hati menghubungi secara pribadi dan membagikan petunjuk tugas yang harus dikerjakan lengkap dengan aturan main kelas.  Tidak boleh menggunakan emotikon dan menyingkat kata.  Hanya itu. Tak ada gambaran tentang sosok pengampu karena belum terjadi interaksi. 

Tugaspun disetor.  Dihari yang telah ditentukan keluarlah pengumuman tentang tulisan orientasi kami.  Sang pengampu memberikan apresiasi dalam bentuk nomor urut disertai umpan balik.  Disaat mendapatkan umpan balik inilah kesan pertama muncul.  Cara pemberian umpan balik yang baru bagi saya.  Cara menjawab pertanyaan seperlunya, tidak boros bicara.  Setiap peserta memaknai sendiri setiap pernyataan umpan balik.  Teknis pengelolaan kelas yang berbeda.  Belajar cerdas.  Itu kesan pertama di benak saya tentang sosok pengampu kelas, Master Eka Wardana.             

Saya merasa terbantu terutama dengan adanya kode-kode umpan balik tersebut.  Sang master tak memberikan materi secara gamblang.  Tetapi dari sinilah saya berproses dan bermetamorfosis.  Mempelajari teknis menulis yang baik dan benar.   Bagaimana penulis itu harus mereparasi sendiri tulisannya sebelum dilayangkan ke meja pengampu.  Drama revisi penulisan karena ejaan yang berantakan, paragraf yang kepanjangan, judul yang terkesan klise sampai kelancaran ide dan cara penyampaiannya sehingga menjadi suguhan yang nikmat bagi pembaca.  Semua runut diberikan oleh sang master. 

Tak pernah ada rasa kesal, jengkel atau apapun itu.  Saya menyadari itu adalah gaya sang master mendidik.  Mendidik kami menjadi penulis berkarakter.  Penulis yang cermat, santun dan saling menghargai.  Namun terkadang ikut gemas mana kala sang master gregetan dengan peserta, ngeyel, suka  menyela, atau kurang perhatian.  Seolah ikut-ikutan gemas membayangkan seandainya menjadi master.

Demikian cermat dan tak kenal lelah sang master mengelola kelas.  Mengkurasi ratusan naskah yang masuk yang sebagian masih keriting dan umpel-umpel heheh.  Sehingga terbersit dalam pikiran saya gimana Pak Eka bisa secermat itu?  Bagaimana  menjaga kestabilan konsentrasi membaca dengan sekian banyak naskah?  Dan saya bisa menebak jawaban dari beliau pasti simpel.  “ish..ish… sahabat yang membuat saya cermat”.  Tak pernah ada kesan menyombongkan diri dari setiap jawabannya walau beliau akrab dengan sapaan Master.  Sebuah sapaan untuk Maha Guru.

Ada rasa haru ketika pertama kalinya melihat nama tercantum mulus sebagai kontributor naskah di buku antologi KMA OP 18.  Sesuatu yang seperti mimpi akan punya buku antologi.  Perasaan yang tak pernah akan bisa dilukiskan.  Juga rasa persaudaraan dan kekeluargaan dengan sahabat dalam grup walau tak saling kenal, tak saling bertemu muka, namun semua dipertautkan oleh master dalam tulisan serba-serbi.  Yang akhirnya memperkokoh tali silaturahim.

Satu hal yang ingin saya sampaikan pada Pak Eka adalah jangan berhenti membimbing kami.  Walau muridmu sering ngeyel teruslah membuat kami menulis dengan riang gembira wahai pengampuku.  Sehingga kami bisa sepertimu.  Penulis bermartabat.

------------------------260320syl---------------------------------------------

Sebuah Ulasan Belajar : Demen Nulis Ala Pak Eka.
Diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia, Kota Bogor.
Kami sebagai kontributor naskah pada buku ini bersama sahabat dari seluruh Indonesia menuturkan pengalaman selama belajar di kelas SGSI bersama Master Eka.








Rabu, 22 April 2020

Pembelajaran Daring Apakah Sebuah Solusi? (Tugas 1 KMA21)


Saya ingin sekali menulis tentang Pembelajaran Jarak Jauh.  Saya rasa ini penting karena mengingat ini adalah salah satu alternatif solusi pembelajaran saat ini.  Saat dimana kita diharuskan melakukan semuanya dari rumah.  Untuk memutus penyebaran virus Covid-19.

Saya akan menyampaikan bahwa pembelajaran jarak jauh dengan metode daring menuntut kesiapan guru, siswa dan orang tua.  Dengan segala kelebihan metode daring, guru dan siswa serasa diuntungkan.  Makin melek teknologi. Guru dan siswa makin kreatif memanfaatkan berbagai aplikasi pembelajaran.  Guru tidak terbebani dengan tugas memeriksa secara manual.  Sekali klik aplikasi siap menjalankan perintah.  Orang tua selain ikut mendampingi, yang paling utama adalah menyiapkan fasilitas mulai dari gadget, laptop sampai wifi atau paketan data.  Demi mendukung pembelajaran daring.

Untuk masa seperti saat ini, teknologi sangat mudah dicerna oleh mereka yang memang memiliki segala fasilitas alat komunikasi.  Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan guru yang sudah terbiasa dengan cara konvensional? Adakah kesulitan menghadapi pembelajaran daring dengan minimnya kemampuan teknologi mereka? Walaupun untuk sebagian guru saat ini mengupgrade diri adalah suatu kewajiban.

Mungkin kita pun harus menengok sedikit ke sebagian sekolah yang jauh dari akses internet.  Siswa yang bersekolah di pedalaman atau pedesaan yang tidak memiliki fasilitas penunjang pembelajaran daring.  Apakah pembelajaran daring merupakan solusi?  Semua ada kelebihan dan kekurangannya.
Saya akan beri judul permulaan tulisan ini adalah : Pembelajaran Daring Apakah Sebuah Solusi?
--------------------------230420syl----------------------

Selasa, 21 April 2020

MENANAMKAN KONSISTENSI BELAJAR (Tugas Akhir KMA OP 20)

Seorang guru tak jarang dalam keseharian layaknya seorang juru taman.  Menghadapi suatu taman yang harus dikelola sehingga sedap dipandang mata.  Asri dirasakan oleh sang pemilik taman disebabkan benih yang disebar tumbuh sesuai harapan.  Namun tak jarang dalam proses menemukan adanya gulma ditengah indahnya taman.  Keyakinan bahwa semua benih yang ditabur akan sesuai harapan sedikit terusik dengan munculnya tumbuhan pengganggu ini.

Bagaimana saya menyikapi hal ini tentu sebagai guru dibutuhkan formula khusus dalam menanganinya.  Penanaman arti pentingnya belajar untuk anak diusia remaja sangat rentan dengan adanya berbagai hantaman saat ini.  Gempuran serangan gadget dan pola tingkah remaja yang mencari jati diri bagai tumbuhan pengganggu di tengah taman.  Menjadikan diri bukan hanya sebagai guru yang mendidik, mengajar dan membimbing namun sebagai tempat mereka curhat dan berbagi.  Saya pun  layaknya teman remaja mereka, menanamkan konsep apa sih pentingnya belajar? Berusaha menanamkan konsistensi belajar, memupuk kecintaan belajar.

Untuk mendukung kesimpulan itu saya mengemukakan beberapa hal yang menjadi kebiasaan mengajar di kelas dengan Program Studi Agribisnis Tanaman pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).  Beberapa hal yang dapat disimpulkan baik dari pembiasaan hingga penerapan model, metode maupun strategi pembelajaran.

Menanamkan motivasi tentang pentingnya belajar.  Hal ini menjadi formula pertama yang ditanamkan kepada siswa saya di kelas.  Membuang jauh-jauh pola pikir bahwa belajar itu membosankan, tidak menarik, mencatat lagi, ceramah lagi dan sebagainya.  Menghilangkan mindset negatif di alam bawah sadar dan memunculkan yang sebaliknya dari dalam diri (intrinsik) bahwa belajar juga bisa sambil fun seperti saat memainkan gadget.

Merubah paradigma para siswa bahwa esensi belajar bukan sekedar mencari nilai akademis.  Belajar tanpa diperintah orang lain.  Belajar bukan sekedar mau ujian.  Motivasi yang terbangun dari dalam diri membuat efek belajar bisa berlangsung lama bahkan seumur hidup.  Dorongan minat belajar yang berasal dari dalam diri akan membuat belajar menjadi menyenangkan, mengasyikan, seru bahkan bisa membuat ketagihan.

Literasi di awal pembelajaran selanjutnya menjadi pembiasaan saya di kelas.  Mereview, merangkum dan menyimpulkan pembelajaran sebelumnya secara tertulis dengan menggunakan bahasa mereka sendiri.  Pembiasaan yang dapat memupuk kelincahan merangkai kata dan kalimat bermakna.  Dirangkum dalam sebuah bentuk portofolio.  Siswa menikmati kebebasan belajar ibarat menikmati asrinya bunga ditaman. 

Selanjutnya, pemberian contoh konkret dalam kehidupan nyata tentang suatu materi yang sedang dipelajari.  Dalam proses kegiatan belajar mengajar, Program studi Agribisnis Tanaman sebagai salah satu jurusan pada SMK memberikan porsi yang lebih besar untuk kegiatan praktek dibanding teori.  Kunjungan langsung ke lahan praktek atau green house, mempraktekkan teknik budidaya tanaman yang benar, menemukan hal baru melalui praktikum di laboratorium, merupakan contoh-contoh nyata penerapan suatu teori.   Sehingga usaha untuk memahami konsep terasa lebih ringan.

Guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu.  Buku, literatur, internet dan lingkungan belajar menjadi sumber pengetahuan bagi siswa.  Mengulik banyak kejadian dan pengalaman praktis yang mungkin tidak diajarkan di kelas.  Pengalaman dalam penemuan-penemuan di lapangan akan membekas dalam memori yang menjadi penentu dalam pemahaman siswa.

Hal berikut yang menjadi kegiatan dalam kelas saya yakni menulis laporan praktek.  Penulisan laporan sederhana namun lebih sistematis.  Dimulai dari penetapan judul, menganalisis tujuan, karakteristik alat dan bahan, cara kerja, hingga uraian tentang hasil praktek.  Hal ini bisa memupuk jiwa literasi dan memperkaya kosa kata.  Selain penanaman konsep yang makin matang.

Disetiap akhir pembelajaran praktek selalu dilakukan pembiasaan mempresentasikan laporan.  Melatih siswa mentransfer ilmu ke orang lain.  Saling menghargai pendapat.  Menerima sumbang saran dari teman sekelompok.   Melatih siswa mengungkap setiap elemen dari unsur yang dipelajari dalam bentuk verbal.    Membebaskan siswa mengeksplor apa yang tidak terungkap dalam laporan praktek.

Menjaga konsistensi belajar tidaklah mudah.  Ibarat menjaga istiqamah dalam ibadah harus dibarengi dengan niat tulus dari dalam hati.  Seberapa penting belajar itu.  Kuncinya ada pada diri siswa itu sendiri.  Kemampuan mengontrol diri sendiri (self control) agar tetap konsisten pada setiap tujuannya.  Menghindari hal-hal yang mengalihkan fokus, menentukan hal yang lebih prioritas, dan sebagainya.  Kita sebagai guru wajib memupuk konsistensi itu melalui pembiasaan dan penerapan metode, model dan strategi pembelajaran yang variatif. 



-------------------------------------syl---------------------------------
22 Maret 2020
Tugas akhir KMA OP 20 "Dua suara dalam benak guru : Seorang Pengawal atau Juru Taman?"
Sebuah buku antologi karya guru senusantara dari berbagai jenjang sekolah. Diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia - Kota Bogor



Memupuk Kecintaan Belajar


Seorang guru tak jarang dalam keseharian layaknya seorang tukang kebun. Menghadapi sebuah taman yang harus dikelola sehingga sedap dipandang mata. Asri dirasakan oleh sang pemilik kebun disebabkan benih yang disebar tumbuh sesuai harapan.

Namun tak jarang dalam proses menemukan adanya gulma ditengah indahnya taman. Keyakinan bahwa semua benih yang ditabur akan sesuai harapan sedikit terusik dengan munculnya tumbuhan pengganggu ini.

Bagaimana saya menyikapi hal ini tentu sebagai guru dibutuhkan formula khusus dalam penanganannya. Penanaman arti pentingnya belajar untuk anak diusia remaja sangat rentan dengan adanya berbagai hantaman saat ini.  Gempuran serangan gadget dan pola tingkah remaja yang mencari jati diri seperti gulma di tengah taman.

Menjadikan diri bukan hanya sebagai guru yang mendidik, mengajar dan membimbing namun sebagai tempat mereka curhat dan berbagi. Saya pun  layaknya teman remaja mereka menanamkan konsep apa sih pentingnya belajar? Memupuk kecintaan belajar mereka.  Sehingga mereka mengerti bahwa, kamu yang menabur kamupun yang akan menuainya kelak.

-----------------
16 Maret 2020
Tugas orientasi KMA OP 20. "Dua suara dalam benak guru : Seorang pengawal atau juru taman".