Kamis, 26 Maret 2020

CERITA GURU DI KELAS- KMA OP 19

Ketika menjadi seorang guru dan ditanya guru seperti apakah saya? Pertanyaan yang berusaha saya jawab dengan sedikit bercerita bahwa saya layaknya seorang pengatur lalu lintas udara.  Keinginan agar semua berjalan pada jalurnya dan mencegah terjadinya tabrakan.  Bagi saya keberhasilan menjalankan tugas dapat dilihat dari keberhasilan siswa ketika mengikuti proses pembelajaran hingga mencapai tujuan pembelajaran.  Beberapa fakta dalam kelas sehubungan dengan hal tersebut dapat saya kemukakan disini.
Pertama, fakta bahwa mengenal karakteristik siswa itu penting.  Target menyelesaikan suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) membuat saya menyadari bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar berbeda.  Diantara siswa terdapat beberapa anak yang mempunyai keterbatasan dalam hal menyelesaikan satu materi pelajaran.  Memberikan latihan sesuai karakteristik siswa akan membuat siswa dihargai kemampuannya.  Sebagai contoh ada anak yang menyenangi pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada olah fisik atau psikomotorik.  Ada pula siswa yang lebih senang jika tagihan tugasnya secara verbal atau lisan maupun tulisan.  Memberikan hak penilaian yang sama kepada anak membuat anak tuntas belajar, target pun tercapai. 
Fakta kedua, siswa lebih menyenangi metode pembelajaran variatif.  Penilaian keterampilan yang terdapat dalam kurikulum 2013 siswa SMK dinilai dari segi unjuk kerja/praktek, proses, produk dan proyek.  Siswa dianggap kompeten jika melakukan suatu rangkaian kerja/praktek baik mendemonstrasikan, mengoperasikan, membuat, memproduksi, mengemas, dan lain sebagainya.  Aspek keterampilan mendapat porsi lebih besar dibanding teori.  Disinilah saya dituntut untuk tidak monoton dalam menyampaikan materi.  Penyerapan materi oleh siswa dalam bentuk audio visual sebelum melakukan praktek cenderung lebih cepat dipahami dibanding penyampaian secara lisan.  Langkah-langkah kerja yang sistematis disajikan dalam bentuk video pembelajaran.  Siswa lebih bergairah dalam belajar dan memacu daya kreatifitas.  Dominasi saya sebagai guru dapat diminimalisir.
Ketiga, pemahaman tentang karakter dalam praktek.  Praktek kejuruan bukan sekedar mahir menggunakan alat dan bahan tanpa rambu-rambu dalam bekerja.  Memberikan pengertian pada siswa bahwa dalam menyelesaikan sebuah tugas bukan siapa yang paling mahir atau siapa yang lebih duluan tuntas namun bagaimana karakter yang dapat dibangun dari setiap tugas yang diberikan.  Disiplin dan bertanggung jawab dalam menggunakan alat dan bahan praktek.  Taat azas sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam melakukan setiap langkah-langkah kerja.  Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan tempat praktek.  Saling bantu, gotong royong dan saling melengkapi kekurangan temannya dalam menuntaskan satu pekerjaan praktek.  Memupuk kerja sama dalam diskusi kelompok dan menggali informasi dalam menyelesaikan suatu laporan praktek. 
Fakta keempat, bahwa kelas yang saya ajar di SMK ini bukanlah kelas dari jurusan berbasis multimedia atau berbasis komputer seperti jurusan lain yang ada di sekolah saya.  Maka saya pun memutar otak bagaimana agar siswa yang masuk pada jurusan pertanian bukan hanya memahami ilmu pertanian akan tetapi mempunyai skill di bidang komputer.  Memadukan media pembelajaran berupa buku ajar digital, penilaian harian berbasis online, dan penugasan lain yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan internet.  Pemahaman bahwa teknologi dan pengetahuan selalu berjalan beriringan bisa menambah wawasan peserta didik.  Dan tentunya pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bersemangat.
Fakta terakhir bahwa komunikasi yang saya bangun layaknya komunikasi sebagai seorang sahabat.  Mengingat peserta didik saya adalah remaja, saya berusaha menyelami apa yang mereka rasakan.  Candaan disela-sela pembelajaran atau praktikum membuat suasana lebih mencair.  Penanganan siswa lebih kepada menggali penyebab masalah, bukan menginterogasi.  Mereka akan lebih merasa dihargai apabila tidak diinterogasi di depan teman-temannya.  Memberi nasehat dengan cara menceritakan hal-hal inspiratif dengan harapan siswa termotivasi.

***********************************feb20syl*****************************************

Catatan Penulis,
Tulisan ini sebagai tugas akhir pada kelas Menulis Online yakni Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan (KMA - OP 19) pada sebuah grup telegram Sahabat Guru Super Indonesia (SGSI).  Buku ini diberi judul " Dua Suara dalam Benak Guru -  Pengatur Lalu Lintas Udara atau Seorang Arsitek?"  Diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia, Kota Bogor.  Cetakan pertama Maret 2020.
Terima kasih untuk pengampu kelas sekaligus penyunting Master Eka Wardana dan segenap tim SGSI- KMA OP 19 atas lahirnya buku ini.  Semoga membawa manfaat bagi pembacanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar