Setelah terpaksa berdamai dengan virus covid-19, sekarang, besok entah sampai kapan kita masih harus tetap berdamai dengan keadaan ini.
Lemahnya penegakan aturan PSBB, yang sebentar lagi akan berubah menjadi istilah "New Normal", telah membuat kita yang masih setia "dirumah aja" menjadi sedih, marah dan bingung. Slogan tagar "Indonesia terserah" begitu mempengaruhi perilaku yang sudah mulai terbiasa dengan segala protokol kesehatan.
Kita bisa lihat di minggu kemarin begitu banyak hal yang membuat dahi berkenyit sampai munculnya tagar "Indonesia Terserah". Dimulai dari larangan mudik, tapi banyak yang berusaha meloloskan diri dengan dibukanya armada transportasi. Lalu mereka yang ingin menjenguk kenangan pada sebuah restoran siap saji pertama di Indonesia dengan mengabaikan protokol kesehatan. Juga oknum selebgram yang dengan arogan menyatakan tak perlu memakai masker jika keluar rumah. Konser atas nama penggalangan dana tanpa protokol kesehatan pun usai hanya dengan sepotong kata maaf dari pihak pembuat kebijakan. Hingga orang yang ramai berdesak-desakan di pasar dan mall karena tuntutan kebutuhan lebaran.
Melihat hal diluar kendali, masyarakat "dirumah aja" bereaksi. Tak terkecuali tenaga medis. Mereka kecewa dan marah. Wajar. Selama kurang lebih tiga bulan merekalah yang paling rentan terpapar akibat mengurusi korban covid. Bukan hanya memasang tagar "Indonesia Terserah", namun reaksi paling keras adalah menyerah dengan melakukan mogok kerja. Wah.
Dengan dilonggarkannya aturan apakah akan merubah perilaku pribadi kita yang sudah hampir tiga bulan ini menerapkannya?
Suatu keterpaksaan yang akhirnya mulai menjadi pembiasaan. Menahan diri untuk tak keluar rumah, menghindari kerumunan, jaga jarak, cuci tangan dan menggunakan masker kalau terpaksa berurusan di luar.
Tak ada ruginya kita kembali ke kebiasaan itu. Kembali mendisiplinkan diri dengan mengikuti aturan. Dan jika semua anjuran protokol kesehatan sudah dijalankan, selanjutnya kita tinggal berserah. Ya.. berserah kepada Yang Maha Kuasa untuk selalu melindungi diri kita, keluarga dan lingkungan. Dijauhkan dari hal-hal yang membawa kemudharatan.
Sekali lagi, berserah yaa, bukan menyerah, apalagi terserah.
------syl-28052020------
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Koq baperan?
Buat yang langsung uring-uringan pas kena singgung di sosmed.
Kamu main sosmed untuk apa? Sekedar membuang penatmu?
Sekedar menyimak dan memberi tanda like biar disebut peduli? Sedikit komentar biar disebut respek? Atau sekedar ngintip lalu pergi ke beranda lain?
Intip-intipmu bisa karena kamu butuh info buat nambah wawasan, lagi butuh perhatian hehe, lagi cari temen ngobrol, bisa pula hanya sekedar ingin tahu aktifitas terbaru sahabat dumaymu.
Trus jika sahabatmu membuat statement yang membuat kamu kesentil, apakah kamu yakin itu buat kamu? Kembali ke niat awal bersosmed guys..
Beberapa tahun lalu saya pernah mengistirahatkan diri dari dunia sosial media. Sampai kembali ada didalamnya. Sekedar menyelami, nyimak, wara wiri seperlunya, kemudian pergi. Ga peduli. Tutup. Log out.
Baper? Pernah. Buat status menyinggung? Jujur, pernah. Tongkrongin sahabat dumay buat status aneh-aneh, status ngedumel halu entah buat siapa, cukup dibaca, like ga, coment juga ga, ga suka langsung skip, kalau lagi suka ya beri love deh atau coment dikit-dikit tanda respek ke sahabat.
Kamu main sosmed untuk apa? Sekedar membuang penatmu?
Sekedar menyimak dan memberi tanda like biar disebut peduli? Sedikit komentar biar disebut respek? Atau sekedar ngintip lalu pergi ke beranda lain?
Intip-intipmu bisa karena kamu butuh info buat nambah wawasan, lagi butuh perhatian hehe, lagi cari temen ngobrol, bisa pula hanya sekedar ingin tahu aktifitas terbaru sahabat dumaymu.
Trus jika sahabatmu membuat statement yang membuat kamu kesentil, apakah kamu yakin itu buat kamu? Kembali ke niat awal bersosmed guys..
Beberapa tahun lalu saya pernah mengistirahatkan diri dari dunia sosial media. Sampai kembali ada didalamnya. Sekedar menyelami, nyimak, wara wiri seperlunya, kemudian pergi. Ga peduli. Tutup. Log out.
Baper? Pernah. Buat status menyinggung? Jujur, pernah. Tongkrongin sahabat dumay buat status aneh-aneh, status ngedumel halu entah buat siapa, cukup dibaca, like ga, coment juga ga, ga suka langsung skip, kalau lagi suka ya beri love deh atau coment dikit-dikit tanda respek ke sahabat.
Ketemu status aneh bin ajaib, cuma mikir aja mungkin si pembuat status lagi ga ada teman curhat, hiks, sambil mikir ini bukan ditujukan buat saya. Cuek aja sahabat. Ga ada yang bisa maksa kita buat suka ke statusnya orang kan, dan ga ada juga yang peduli kalau kamu suka.
Koq jadi baper? Yakinkan pada diri sendiri bahwa status yang kamu anggap telah menggores hatimu itu bukan untuk kamu. Itulah harmoni bersosmed. Masih ga bisa? Masih gampang baperan? Jangan main sosmed deh kalau gitu. Hihih..
ISTIQAMAH DI KEMENANGAN
Merebut kemenangan adalah suatu hal yang sulit. Namun mempertahankannya sungguh bukanlah hal yang mudah. Kita sudah berhasil mengalahkan hawa nafsu selama Ramadhan. Rela menahan lapar dan dahaga. Ikhlas di sepertiga malam untuk bermunajad kepadaNya. Kita lebih banyak tafakur dihadapanNya. Bersedekah. Bertilawah. Sabar dan ikhlas. Semua dilakukan untuk mendapatkan pahala berlimpah.
Kini Ramadhan barusan pergi. Lebaran belum usai. Hari ini adalah hari ketiga kita merayakan hari kemenangan. Masihkah kita tetap istiqamah?
Kita bisa menentukan mana yang bisa membawa kita ke hal yang lebih baik atau kembali berjibaku dengan kebiasaan lama yang buruk. Namun jika sesuatu hanya membawa kita kembali tersesat, mengapa itu menjadi pilihan?
Bukankah di hari yang fitri kita seperti terlahir kembali dalam keadaan suci? Tiada noda dan dosa. Berhati bersih, tiada iri, dengki dan sombong. Saling meminta dan memberi maaf.
Sejatinya saling memaafkan bukan hanya ketika momen lebaran. Saling memaafkan dan saling mengingatkan bisa kapan saja. Sabar dan ikhlas ketika diingatkan, siap menerima kritikan, legowo ketika saran ditolak, atau tetap rendah hati kala usulan diterima. Tidak mudah terpancing dan tidak mudah terprovokasi.
Ada banyak hari di sebelas bulan mendatang untuk bisa istiqamah. Istiqamah dengan segala amalan sholeh. Istiqamah dengan hati yang bersih. Semoga kita bisa mempertahankan kemenangan ini.
#self reminder
03 Syawal 1441 H
--------syl-------
Kini Ramadhan barusan pergi. Lebaran belum usai. Hari ini adalah hari ketiga kita merayakan hari kemenangan. Masihkah kita tetap istiqamah?
Kita bisa menentukan mana yang bisa membawa kita ke hal yang lebih baik atau kembali berjibaku dengan kebiasaan lama yang buruk. Namun jika sesuatu hanya membawa kita kembali tersesat, mengapa itu menjadi pilihan?
Bukankah di hari yang fitri kita seperti terlahir kembali dalam keadaan suci? Tiada noda dan dosa. Berhati bersih, tiada iri, dengki dan sombong. Saling meminta dan memberi maaf.
Sejatinya saling memaafkan bukan hanya ketika momen lebaran. Saling memaafkan dan saling mengingatkan bisa kapan saja. Sabar dan ikhlas ketika diingatkan, siap menerima kritikan, legowo ketika saran ditolak, atau tetap rendah hati kala usulan diterima. Tidak mudah terpancing dan tidak mudah terprovokasi.
Ada banyak hari di sebelas bulan mendatang untuk bisa istiqamah. Istiqamah dengan segala amalan sholeh. Istiqamah dengan hati yang bersih. Semoga kita bisa mempertahankan kemenangan ini.
#self reminder
03 Syawal 1441 H
--------syl-------
Minggu, 17 Mei 2020
TUMBILOTOHE
Setiap akan mengakhiri Bulan Ramadhan setiap muslim senantiasa bersuka cita. Hari yang fitri akan segera tiba. Hari yang penuh kemenangan. Setiap orang menyambutnya dengan gembira. Juga kami masyarakat di Gorontalo.
Ada satu tradisi masyarakat Gorontalo yang tidak pernah ketinggalan setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, yakni tradisi tumbilotohe atau pasang lampu. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15. Biasanya dimulai pada tanggal 27 Ramadhan hingga malam lebaran. Namun saat ini malam tumbilotohe oleh masyarakat Gorontalo sering dilakukan sejak 25 Ramadhan hingga seminggu setelah lebaran. Menambah meriahnya hari lebaran di Gorontalo.
Tumbilotohe yang dalam Bahasa Gorontalo, tumbilo yang berarti pasang dan tohe adalah lampu. Pada zaman orang tua kita dulu, sebelum listrik seperti sekarang, tumbilotohe dipasang berupa lampu-lampu botol yang diberi sumbu lengkap dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya layaknya lampu pelita. Dipasang di teras rumah dan halaman rumah. Ada pula yang meletakkannya pada arkus, semacam kerangka gapura kecil dari bambu yang dihiasi dengan janur yang dipasang tepat di pintu-pintu gerbang rumah. Kerlap-kerlip cahaya menambah keindahan malam menjelang lebaran.
Pada saat ini tumbilotohe makin modern dengan digunakannya hiasan-hiasan dari lampu listrik. Bohlam kecil dipasang pada sebatang bambu yang dibiarkan memanjang. Daun pada batang bambu dihilangkan dan disisakan hanya pada ujungnya. Lalu di sepanjang batang bambu diletakkan hiasan lampu warna-warni. Batang-batang bambu kemudian dipasang di pagar pada halaman depan rumah dan dipertemukan dengan batang bambu dari rumah tetangga yang berada di depan. Sehingga jika kita melewati jalan tersebut serasa memasuki terowongan lampu. Warna-warni yang berasal dari cahaya yang memancar dari bohlam lampu sungguh sangat indah. Walau ada pula yang hanya memasang di teras-teras rumah. Hal ini tidak mengurangi keindahan tumbilotohe itu sendiri.
Malam pasang lampu merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat Gorontalo. Pada malam –malam ini seluruh wilayah Gorontalo terang benderang. Masyarakat Gorontalo tumpah ruah ke jalan hanya untuk menikmati keindahan malam pasang lampu. Seluruh rumah penduduk, perkantoran, pertokoan, bahkan tanah-tanah kosong, persawahan dan di atas sungai dipasang rakit lampu-lampu hias. Sehingga oleh Pemerintah Daerah Gorontalo tradisi ini dijadikan sebuah Festival Tumbilotohe. Bisa dibayangkan masyarakat Gorontalo gegap gempita secara sukarela dan ikhlas menyiapkan segala hal dalam rangka memeriahkan festival tumbilotohe. Sebuah malam yang dirindukan bagi kami yang jauh dari Gorontalo.
Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri.
__________syl 25 Ramadhan 1441 H_____________
Minggu, 10 Mei 2020
Jarimu Harimaumu
Suka gemas dengan sebagian orang yang sering membagikan
berita tanpa pertimbangan. Sekali klik
informasi langsung tersebar. Sebuah
tautan, berita, informasi jika bukan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan
menimbulkan berbagai persepsi.
Memilah-milah informasi yang diterima untuk kemudian dibagikan kembali
sepatutnya mempertimbangkan hal-hal yang akan muncul akibat dibagikannya sebuah
informasi.
Bijak menanggapi masuknya berbagai informasi lewat gawai. Mengabaikan konten, tautan, yang belum tentu
kebenarannya. Suatu informasi yang saat
ini sedang hangat akan menjadi negatif jika dilihat dari sisi yang
negatif. Namun informasi yang salah pun akan
dimaknai positif oleh orang yang selalu berpikiran positif.
Tetap menebar kebaikan meski lewat jari jemari.10/05/2020 - 17 Ramadhan 1447 H
========================== syl ============================
Langganan:
Komentar (Atom)