Jumat, 19 Juni 2020

UNTUNG RUGI BELAJAR DARING - Tugas akhir KMA OP 22

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau  Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi menu utama pembicaraan di kalangan pendidik saat ini.  Mau tidak mau ketika pandemi covid-19 melanda dunia, alternatif inilah yang banyak dipilih.  PJJ ataupun BDR hanyanya sebuah istilah.  Sebagai seorang pendidik adalah kewajiban kita memberikan hak belajar kepada anak sebagai siswa, bagaimanapun caranya.
Dalam Surat Edaran No. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 oleh Mendikbud Bapak Nadiem Makarim, seperti yang dilansir oleh situs resmi Kementrian.go.id tanggal 24 Maret 2020, salah satunya menegaskan bahwa proses belajar mengajar diadakan dari rumah.  Oleh sebab itu berdasarkan Surat Edaran tersebut semua stakeholder yang bergerak di bidang pendidikan harus bisa mengkondisikan situasi ini.
Pada awal diterapkan pembelajaran dalam jaringan (daring) sebagai pilihan belajar dari rumah, bukan tidak mungkin banyak pendidik yang bingung, khawatir atau bertanya-tanya, bisakah kami menjalankannya, seperti apa, bagaimana caranya dan pertanyaan-pertanyaan lain.  Tak mudah memang.  Pembelajaran daring mengharuskan kita berinteraksi dengan teknologi.  Bagi yang terbiasa, bukan hal yang sulit, namun bagi sebagian besar guru terutama yang berada di daerah terpencil hal ini menjadi suatu kekhawatiran. Keterbatasan jaringan internet, keterampilan mengelola platform dan berbagai aplikasi yang belum familiar menjadi suatu tantangan.
Namun kita tidak sendiri, pihak pemerintah maupun swasta mencoba mengantisipasi hal ini.  Berbagai pelatihan dilaksanakan demi menunjang pembelajaran daring, dan tentunya inipun dilaksanakan tanpa tatap muka.  Sedikit demi sedikit pendidik mulai menguasai berbagai aplikasi pembelajaran. Diantaranya, google classroom, pembuatan soal melalui google form, socrative, quipper, quizizz dan masih banyak lagi.  Tatap muka bisa tergantikan dengan zoom cloud meeting, webex meet atau google meet.  Bahkan saat ini guru mulai banyak berinovasi dengan video-video pembelajaran yang dibuat sendiri sebagai bahan materi bagi siswanya.  Guru mulai terampil mengintegrasikan beberapa aplikasi yang memudahkan siswa mengakses materi sekaligus evaluasi.
Bagi kaum pendidik inilah saatnya berubah.  Tidak stagnan di satu metode pembelajaran.  Ada banyak media dan metode pembelajaran daring yang dapat diterapkan.  Seiring dengan anjuran Mendikbud, bahwa dalam rangka menuju era revolusi industri 4.0 penggunaan IT untuk lingkungan pendidikan bisa lebih dimaksimalkan.
Guru pun bisa turut mencatatkan sejarah tentang pembelajaran daring.  Terbayang kan tanpa pandemi seperti saat ini, masih banyak guru yang tak mau belajar IT dengan berbagai alasan.  Faktor usia, gaptek, fasilitas jaringan internet dan lainnya menjadi alasan.  Tak ada lagi kalimat seperti itu terdengar.  Semua menjadi guru pembelajar.  Virus boleh berinkubasi, tapi manusia harus dapat beradaptasi.
Bagi siswa, belajar terasa lebih menyenangkan.  Kebiasaan berselancar di dunia maya hanya untuk bermain game, sosial media dan menonton youtube dapat dialihkan dengan membuka materi pelajaran.  Melalui berbagai aplikasi bahkan video pembelajaran dapat diakses melalui youtube.  Waktu dapat diatur lebih fleksibel.  Secara tidak langsung siswa tetap diajar disiplin membagi waktu antara belajar dan bermain.  Karena di setiap evaluasi guru dapat mengatur tenggat waktu pengumpulan tugas.
Dari segi keamanan dan kenyamanan, baik siswa maupun guru tak perlu merasa khawatir terkontaminasi virus.  Bahkan orang tua tak merasa gundah buah hatinya terpapar oleh makhluk tak kasat mata ini.  Untuk hal ini bagi siswa di tingkat sekolah menengah akan lebih mudah dikontrol.  Namun tidak dengan siswa di tingkat dasar yang masih kesulitan dalam menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran.  Sehingga belajar dari rumah tetap menjadi pilihan terbaik saat ini.  Walau bagaimana pun kesehatan dan keselamatan siswa dan tenaga pendidik tetap nomor satu.
Dibalik beberapa keuntungan pembelajaran daring seperti dipaparkan di atas, sesungguhnya kekurangan tak luput menyertainya.  Namun dibalik berbagai kendala, tentu sebenarnya ada solusi jika kita mau.  Kendala dari segi keterbatasan telepon pintar ataupun kuota internet.  Siswa tetap dapat memenuhinya dengan meminjam dari orang tua atau teman mereka.  Punya gawai dan kuota, namun jaringan tak bersahabat, hal ini pun bisa diatasi dengan adanya siaran pendidikan dari stasiun televisi seperti TVRI.  Walau belum maksimal, berbagai kendala sepatutnya dapat teratasi, jika memang PJJ tetap akan diadakan selama belum berakhirnya pandemi.
Kita bisa juga mengacu kembali kepada kebijakan dari Mas Menteri bahwa pembelajaran daring memberikan model pembelajaran yang bermakna tanpa terbebani tuntutan menuntaskan capaian kurikulum.  Aktifitas belajar mengajar disesuaikan dengan mempertimbangkan kesenjangan belajar dari rumah.
Kita tak bisa berbulan-bulan hanya meratapi nasib tentang adanya pandemi ini.  Guru-guru yang berada di pelosok menyadari ini adalah satu kekurangan yang tak bisa hanya diratapi, kondisi geografis tak menghalangi niat tulus para guru di desa terpencil.  Banyak diantara mereka dengan suka rela mengunjungi siswanya secara berkala untuk menitipkan modul pembelajaran agar siswa tetap mendapatkan haknya.  Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.  Sesungguhnya guru yang cerdas dapat memaksimalkan pembelajaran agar tetap efektif dan menyenangkan di kondisi apapun. 
 ****************************syl19062020**************************


Penulis adalah salah satu kontributor dalam buku 1, "Untung Rugi Pembelajaran Daring. Serampai Opini Pendidikan." Buku setebal 458 halaman berukuran 12 x 17 cm. Diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia, Kota Bogor.
Buku ini adalah buku kedua yang kami tulis di masa pandemi covid-19 ini. Setelah sebelumnya "Dilema Pembelajaran Jarak Jauh" dirilis Bulan Mei 2020 lalu. Agak berbeda dari buku sebelumnya, pada buku pertama sebagian guru mencurahkan dilema tentang pembelajaran daring, baik dari fasilitas penunjang maupun kemampuan dan keterampilan guru dalam mengelola fitur-fitur aplikasi daring. 
Di buku ini penulis lebih mengungkapkan tentang sebagian besar keuntungan belajar daring khususnya bagi kami guru. Guru menjadi melek IT, menjadi Guru Pembelajar, yang tak mau menyerah oleh keadaan sekejam pandemi covid-19. Hak belajar anak harus tetap terpenuhi. Guru pun makin bersemangat dan naik level menjadi guru berteknologi. Walau bagi sebagian kecil yang mungkin belum terbuka hasrat tuk belajar teknologi, mungkin sang guru belum menemukan asyiknya belajar teknologi.
Penulis bergabung dalam Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan (KMA-OP 22). Terima kasih sebesar-besarnya untuk segala ilmu dihaturkan untuk sang guru Bapak Eka Wardana dan Tim KMA-OP 22 yang menyediakan fasilitas untuk guru berkarya.
Mari menabur kebaikan walau hanya lewat tulisan dari kami guru di seluruh Indonesia.  Salam literasi. 

Rabu, 17 Juni 2020

Tugas Pendahuluan KMA OP 22

Tugas Pendahuluan KMA OP 22

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih menjadi menu utama pembicaraan di kalangan pendidik.  Mau tidak mau ketika pandemi covid-19 melanda dunia, alternatif inilah yang banyak dipilih.

Beberapa keuntungan yang dirasakan antara lain, pertama dari segi keamanan, siswa maupun guru tak perlu merasa takut terkontaminasi virus.  Untuk hal ini bagi siswa di tingkat sekolah menengah akan lebih mudah dikontrol.  Namun tidak dengan siswa di tingkat dasar yang masih kesulitan dalam menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran.  Sehingga pilihan belajar dari rumah adalah alternatif terbaik saat ini.

Kedua, bagi kaum pendidik inilah saatnya berubah.  Tidak stagnan di satu metode pembelajaran.  Ada banyak media dan metode daring pembelajaran yang dapat diterapkan.  Seiring dengan anjuran Mendikbud, bahwa dalam rangka menuju era 4.0 penggunaan IT untuk lingkungan sekolah lebih bisa dimaksimalkan.

Ketiga, sebagai tenaga pendidik, bisa turut mencatatkan sejarah tentang pembelajaran daring.  Terbayang kan tanpa pandemi seperti saat ini, masih banyak guru yang tak mau belajar IT dengan berbagai alasan.  Faktor usia, gaptek, fasilitas jaringan internet dan lainnya menjadi alasan.  Tak ada lagi kalimat seperti itu terdengar.  Semua menjadi guru pembelajar.  Virus boleh berinkubasi, tapi manusia harus dapat beradaptasi.

Dibalik keunggulan di atas, sesungguhnya kekurangan tak luput menyertainya.  Kendala antara lain adalah dari segi fasilitas.  Keterbatasan ponsel pintar ataupun kuota internet.  Punya ponsel dan kuota, namun jaringan tak bersahabat.  Berbagai kendala sepatutnya dapat teratasi, jika memang PJJ tetap akan diadakan selama belum berakhirnya pandemi.

Tulisan ini akan saya coba beri judul, Untung Rugi Belajar Daring.

Sriyanti Ladiku - Palu

Kutipan Hasil Belajar Pertemuan ke 3 KMA OP 22

Saya akan mencoba merangkum beberapa kutipan pertanyaan terpilih yang dibahas pada pertemuan ke-3 tanggal 17 Juni 2020 dalam Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan (KMA OP) Tahap 22.  

Pertemuan daring yang rutin diadakan setiap Rabu malam.  Tentunya pembahasan dari seorang guru genial Master Eka Wardana.  Semoga bisa menjadi referensi dalam meningkatkan kwalitas tulisan sahabat guru semua.
==========

Master, apa rahasia seorang penulis bisa menulis dengan kata-kata yang menarik, tidak garing sehingga pembaca tidak ingin berhenti membaca tulisannya?


Ike Yolanda_Kota Padang


Ini pertanyaan yang kerap saya temui, terima kasih. 

Kuncinya perbanyak membaca karya yang bagus dan banyak latihan menulis. Karena keterampilan menulis itu diasah bukan datang dengan sendirinya. Bersungguh-sungguhlah dala mencapainya, keberhasilan sejalan dengan jumlah investasi yang ditanam.

===========


Ikut menyumbang pertanyaan sebagai pertanyaan pembuka :

Apakah setiap tulisan itu seperti makhluk dan punya nyawa? Jika iya bagaimana menciptakannya?


Terima kasih

Erni Ekawati_Gunungkidul


Terima kasih pertanyaan yang membangun.

Ya setiap ketikan huruf dia akan menemui nasibnya sendiri. Bahkan penulisnya tidak berhak menentukan nasib tulisan itu. jadi beruntunglah para penulis karena dia mencipta. Mencipta ide, kreasi, rasa, berpikir dan mempengaruhi orang, yang diam tidak berkarya ya tidak ada hal yang bisa dibanggakan. Begitu?


PAMUNGKAS! PALU GODAM.

=======================


Apa yang harus kita lakukan saat kita benar-benar tidak mood untuk menulis?


Rinda. A - Kutai Timur


Jika benar-benar tidak mood menulis maka jangan menulis. Lalu apakah mood itu akan datang dengan sendirinya? Tidak akan datang! Mood itu diciptakan oleh diri kita sendiri dengan cara membuat kenyamanan saat menulis. Ciptakan mood dengan ikut kelas menulis, teman menulis, membaca hal tentang menulis, suasana rileks, dan hal yang membuat santai dan asyik dalam menulis.

============


Saya mencoba mengutarakan apa yang kiranya menjadi pertanyaan pembuka :

Apakah dalam penulisan opini kita bisa memainkan diksi dalam setiap kalimat? Seberapa besar porsinya seperti dalam puisi atau cerpen? Terima kasih

Sriyanti Ladiku – Palu


Terima kasih, pertanyaan ini kerap ditanyakan dan cukup membantu dalam menulis. Ya, diksi, lema, kosa kata adalah peluru dalam menulis. Jadi kekurangan kosa kata akan berbelit menggunakan kata yang yang berulang. Pembaca bosan dan penulis pun jemu. Agar tambah kosa kata, kuncinya banyak membaca dan menggunakan kosa kata baru dalam menulis. Gunakan tesaurus untuk menggali kata yang mirip atau sama, gunakan kamus untuk mengetahui makna kata. Dan yang lebih penting sering menulis, akan menambah kosa kata dengan sendirinya.

===========


Bagaimana cara menumbuhkan minat menulis ketika ide tidak mengalir?


Fitri Agusrini_Batam


Pertanyaan yang memantik ide, pertama tinggalkan tulisan sementara. Lakukan kegiatan lain, ambil jeda, minum teh, atau seduh kopi. Lalu baci lagi tulisan dan lanjutkan. Kedua, baca beberapa artikel ringan, atau artikel yang disukai lalu lanjut menulis kembali. Atau membuat daftar pertanyaan, daftar kesukaan, daftar hal yang dibenci, atau hal yang ingin dilakukan setelah pandemi berakhir. Dan sejenisnya.

===============


Pertanyaan saya sebagai pembuka kelas: 

Bagaimana agar menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan, sehingga kalau kita tidak menulis seperti ada yang kurang.



Titin Ari Priyanti_Batam


Terima kasih, pertanyaan yang membuat kita tersadar apa tujuan menulis itu sendiri. Apa makna menulis pagi saya, penanya dan sahabat guru sekalian. Menulis pasti ada makna dan harganya buat pribadi masing-masing. Galilah makna itu, temukan sebagai faktor yang menambah energi bagi kita saat menulis. Tanpa itu, menulis menjadi kegiatan yang kosong tanpa makna. Bukan begitu?

=================


Pertanyaan yang saya ingin ajukan adalah teknik atau trik untuk mengelola waktu agar tetap bisa mempertahankan semangat menulis ditengah banyaknya kesibukan sehari-hari.


Siti Mutomimah_Ngawi


Terima kasih, satu pertanyaan isinya dua. Pertama, bagaimana mengatur waktu menulis? Yang sering saya lakukan adalah menulis secara rutin dengan waktu tertentu, misalnya pagi hari atau malam hari. Namun rutin, jika tidak rutin maka akan berat melakukannya. Tulisan-tulisan ringan, berikan tantangan misalnya 250 kata, 350 dan seterusnya hingga 800-1000 kata yang bisa dimuat di media nasional. 


Pertanyaan kedua, semangat menulis bisa ditumbuhkan bila kita merasakan nikmatnya menulis dan mengetahui manfaat yang di dapat. Jika kedua hal itu belum tumbuh, biasanya menulis hanya membuat siksaan saja.

=================


Pertanyaan Pembuka Kelas


Bagaimana proses seorang penulis agar ia mempunyai ciri khas yang bisa dibedakan dari penulis lainnya?


Nur Emika_Prabumulih


Terima kasih pertanyaannya yang menggelitik. 


Untuk menjadi penulis yang berbeda dengan tulisan yang lain maka mulailah dengan menulis baik terlebih dahulu. Apa itu menulis yang baik? Yang gagasannya bisa dicerna, tersampaikan dengan baik, bebas dari kesalahan ketik, ejaan, singkatan, dan emotikon. Baca tulisan-tulisan yang bagus, ambil ciri khasnya. Lalu perbanyak menulis sehingga mulai menemukan ciri khas tulisan sendiri. Tidak bisa muncul ciri khas tulisan tanpa latihan, perbaikan dan jam terbang yang cukup.

=================


Assalammu'alaikum Master, terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk mengajukan pertanyaan. Berikut ini pertanyaan dari saya sehubungan dengan kegiatan menulis pada umumnya dan khususnya artikel opini pendidikan :


Bagaimana cara yang baik mengutip pendapat para ahli atau pendapat penulis lainnya dari buku atau dari media sosial pada artikel yang akan kita tulis agar terhindar dari plagiarisme ?


Sujarti_Bangka Tengah


Terima kasih pertanyaan yang membuka pengetahuan.


Mengutip dan menyebutkan sumber kutipan merupakan etika sekaligus penghormatan kepada penulisnya. Jika mengutip namun tidak mencantumkan sumbernya merupakan tindakan tidak terpuji bahkan bisa disebut sebagai pencurian kecil. 


Tulisan yang dipenuhi oleh kutipan juga tidak elok, mengapa? Karena pembaca ingin mengetahui pandangan penulis, bukan pandangan kutipan orang lain. Kendati demikian ada cara mengutip yang enak sehingga tidak terkesan salin tempel. Gunakanlah parafrase sehingga ada peran penulis dalam mengolah ide dan menyajikannya ke pembaca. 


Maksimal kutipan tidak lebih dari 30 % dari naskah.

==================


Semangat pagi, master.

Terima kasih atas kesempatannya untuk bertanya.


Sebagai penulis pemula, manakah yang benar. Menulis lah jgn takut salah atau tetap harus cermat, teliti, dibaca ulang, diedit lg sebelum dipublish tulisan tersebut. Terima kasih.


Erni Yuliati_Cilegon


Terima kasih pertanyaan yang kerap disampaikan oleh siapa saja yang ingin tulisannya bagus.


Jika menulis takut salah, maka tulisan akan gagal sebelum mekar. Karena perasaan salah akan menghantui selama proses menulis. Menulislah dengan cermat, teliti, bebas dari kesalahan namun tidak berarti saat menulis terus terusik dengan mengamati kesalahan terus menerus. Tulis saja dengan baik hingga ide habis dari kepala. Setelah itu baru rapikan lagi tulisan yang telah disusun. 


Jadi tidak bisa dipisahkan antara menulis dengan kecermatan, ketelitian, dan kehati-hatian. Namun jangan sampai menghambat pengaliran ide dalam menulis.

===================


Assalamualikum Master Eka. Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Rabb.

Izin bertanya Master. Bagaimana membuat tulisan yang berisi dan bernas. Bukan sekadar narasi biasa. Sebab menurut penulis sudah bagus namun kenyataan berkata tidak. 


Terima kasih master Eka. Barakallah.

Maya Safitri – Balikpapan


Terima kasih pertanyaan reflektifnya, 

Penulis tidka bisa mengklaim tulisannya sudah bagus atau tidak, yang akan menentukan tulisan itu bagus atau tidak ya pembacanya. Bisa jadi tulisan kita anggap jelek, ternyata pembaca suka dan merasa puas setelah membaca tulisan itu. Jadi tulisan kerap menemukan jalannya sendiri. Tugas penulis adalah menulis dengan sebaik mungkin, selanjutnya khalayak yang akan menilai.

=======================


Selamat pagi, Master.

Dalam menulis opini khususnya, mana yang lebih baik antara menulis secara blak-blakan dengan bahasa yang langsung bisa dicerna atau diselingi rangkaian kata yang maknanya harus dipikir sendiri oleh pembaca?


Luh Made Wardyaningsih_Gianyar


Terima kasih pertanyaannya, 

Menulis yang baik adalah tuisan yang bisa ditangkap maksudnya oleh pembaca. Jika pembaca masih kebingungan maka tujuan tulisan tidak sampai. Alias gagal. Apakah blak-blakan atau dengan penggunaan bahasa yang lebih rumit itu terkait cara. Banyak juga tulisan yang menjelaskan hal rumit namun penyajiannya enak dan mudah dicerna. Dan banyak pula tulisan yang isinya sejengkal namun pengungkapannya membuat dahi berkerut hati gundah.

==========


catatan kecil:


Penggunaan kata “Anda”, “saudara”, “kamu”, “saya”, dan “aku”


Perhatikan penggunaan kata |anda| untuk teman sebaya atau kepada staff. Namun jika disampaikan kepada atasan atau orang yang dihormati menjadi tidak elok dan kurang santun. 


Penggunaan |saudara| untuk sejawat atau rekanan. Atau pihak yang sederajat. Bukan kepada guru, pengampu atau orang yang lebih tua atau dihormati.


Kata |Kamu| untuk teman sebaya, akrab dan sudah terbiasa bergaul.


Kata |aku| untuk teman sebaya dan dekat, juga untuk menunjukkan kebanggaan. 


Kata |saya| menunjukkan kesopanan, merendahkan diri dan menghargai orang yang di ajak bicara.


======================





Kamis, 11 Juni 2020

Tugas Orientasi KMA OP 22

Tiga hal yang membuat saya bangga menulis,

Menulis adalah salah satu jembatan menyampaikan ide.  Melalui ide yang dirangkai menjadi paduan kata dan kalimat diharapkan pembaca mampu memaknai dan menemukan jawaban di setiap ide saya.

Menulis juga membuat kepercayaan diri meningkat. Berani tampil dengan gagasan bermanfaat bagi pembaca.  Hal yang dulu selalu diliputi oleh rasa ragu karena rasa tidak percaya diri untuk menampilkan tulisan.

Hal lainnya, saya bisa menorehkan karya lewat sebuah buku.  Melalui tulisan yang terpatri lewat sebuah buku, orang lain akan mendapat manfaat atau terinspirasi dari setiap tulisan saya. Walau jiwa telah terpisah dari raga namun tetap akan dikenang sepanjang masa. 


------syl11062020----