Rabu, 17 Juni 2020

Kutipan Hasil Belajar Pertemuan ke 3 KMA OP 22

Saya akan mencoba merangkum beberapa kutipan pertanyaan terpilih yang dibahas pada pertemuan ke-3 tanggal 17 Juni 2020 dalam Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan (KMA OP) Tahap 22.  

Pertemuan daring yang rutin diadakan setiap Rabu malam.  Tentunya pembahasan dari seorang guru genial Master Eka Wardana.  Semoga bisa menjadi referensi dalam meningkatkan kwalitas tulisan sahabat guru semua.
==========

Master, apa rahasia seorang penulis bisa menulis dengan kata-kata yang menarik, tidak garing sehingga pembaca tidak ingin berhenti membaca tulisannya?


Ike Yolanda_Kota Padang


Ini pertanyaan yang kerap saya temui, terima kasih. 

Kuncinya perbanyak membaca karya yang bagus dan banyak latihan menulis. Karena keterampilan menulis itu diasah bukan datang dengan sendirinya. Bersungguh-sungguhlah dala mencapainya, keberhasilan sejalan dengan jumlah investasi yang ditanam.

===========


Ikut menyumbang pertanyaan sebagai pertanyaan pembuka :

Apakah setiap tulisan itu seperti makhluk dan punya nyawa? Jika iya bagaimana menciptakannya?


Terima kasih

Erni Ekawati_Gunungkidul


Terima kasih pertanyaan yang membangun.

Ya setiap ketikan huruf dia akan menemui nasibnya sendiri. Bahkan penulisnya tidak berhak menentukan nasib tulisan itu. jadi beruntunglah para penulis karena dia mencipta. Mencipta ide, kreasi, rasa, berpikir dan mempengaruhi orang, yang diam tidak berkarya ya tidak ada hal yang bisa dibanggakan. Begitu?


PAMUNGKAS! PALU GODAM.

=======================


Apa yang harus kita lakukan saat kita benar-benar tidak mood untuk menulis?


Rinda. A - Kutai Timur


Jika benar-benar tidak mood menulis maka jangan menulis. Lalu apakah mood itu akan datang dengan sendirinya? Tidak akan datang! Mood itu diciptakan oleh diri kita sendiri dengan cara membuat kenyamanan saat menulis. Ciptakan mood dengan ikut kelas menulis, teman menulis, membaca hal tentang menulis, suasana rileks, dan hal yang membuat santai dan asyik dalam menulis.

============


Saya mencoba mengutarakan apa yang kiranya menjadi pertanyaan pembuka :

Apakah dalam penulisan opini kita bisa memainkan diksi dalam setiap kalimat? Seberapa besar porsinya seperti dalam puisi atau cerpen? Terima kasih

Sriyanti Ladiku – Palu


Terima kasih, pertanyaan ini kerap ditanyakan dan cukup membantu dalam menulis. Ya, diksi, lema, kosa kata adalah peluru dalam menulis. Jadi kekurangan kosa kata akan berbelit menggunakan kata yang yang berulang. Pembaca bosan dan penulis pun jemu. Agar tambah kosa kata, kuncinya banyak membaca dan menggunakan kosa kata baru dalam menulis. Gunakan tesaurus untuk menggali kata yang mirip atau sama, gunakan kamus untuk mengetahui makna kata. Dan yang lebih penting sering menulis, akan menambah kosa kata dengan sendirinya.

===========


Bagaimana cara menumbuhkan minat menulis ketika ide tidak mengalir?


Fitri Agusrini_Batam


Pertanyaan yang memantik ide, pertama tinggalkan tulisan sementara. Lakukan kegiatan lain, ambil jeda, minum teh, atau seduh kopi. Lalu baci lagi tulisan dan lanjutkan. Kedua, baca beberapa artikel ringan, atau artikel yang disukai lalu lanjut menulis kembali. Atau membuat daftar pertanyaan, daftar kesukaan, daftar hal yang dibenci, atau hal yang ingin dilakukan setelah pandemi berakhir. Dan sejenisnya.

===============


Pertanyaan saya sebagai pembuka kelas: 

Bagaimana agar menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan, sehingga kalau kita tidak menulis seperti ada yang kurang.



Titin Ari Priyanti_Batam


Terima kasih, pertanyaan yang membuat kita tersadar apa tujuan menulis itu sendiri. Apa makna menulis pagi saya, penanya dan sahabat guru sekalian. Menulis pasti ada makna dan harganya buat pribadi masing-masing. Galilah makna itu, temukan sebagai faktor yang menambah energi bagi kita saat menulis. Tanpa itu, menulis menjadi kegiatan yang kosong tanpa makna. Bukan begitu?

=================


Pertanyaan yang saya ingin ajukan adalah teknik atau trik untuk mengelola waktu agar tetap bisa mempertahankan semangat menulis ditengah banyaknya kesibukan sehari-hari.


Siti Mutomimah_Ngawi


Terima kasih, satu pertanyaan isinya dua. Pertama, bagaimana mengatur waktu menulis? Yang sering saya lakukan adalah menulis secara rutin dengan waktu tertentu, misalnya pagi hari atau malam hari. Namun rutin, jika tidak rutin maka akan berat melakukannya. Tulisan-tulisan ringan, berikan tantangan misalnya 250 kata, 350 dan seterusnya hingga 800-1000 kata yang bisa dimuat di media nasional. 


Pertanyaan kedua, semangat menulis bisa ditumbuhkan bila kita merasakan nikmatnya menulis dan mengetahui manfaat yang di dapat. Jika kedua hal itu belum tumbuh, biasanya menulis hanya membuat siksaan saja.

=================


Pertanyaan Pembuka Kelas


Bagaimana proses seorang penulis agar ia mempunyai ciri khas yang bisa dibedakan dari penulis lainnya?


Nur Emika_Prabumulih


Terima kasih pertanyaannya yang menggelitik. 


Untuk menjadi penulis yang berbeda dengan tulisan yang lain maka mulailah dengan menulis baik terlebih dahulu. Apa itu menulis yang baik? Yang gagasannya bisa dicerna, tersampaikan dengan baik, bebas dari kesalahan ketik, ejaan, singkatan, dan emotikon. Baca tulisan-tulisan yang bagus, ambil ciri khasnya. Lalu perbanyak menulis sehingga mulai menemukan ciri khas tulisan sendiri. Tidak bisa muncul ciri khas tulisan tanpa latihan, perbaikan dan jam terbang yang cukup.

=================


Assalammu'alaikum Master, terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk mengajukan pertanyaan. Berikut ini pertanyaan dari saya sehubungan dengan kegiatan menulis pada umumnya dan khususnya artikel opini pendidikan :


Bagaimana cara yang baik mengutip pendapat para ahli atau pendapat penulis lainnya dari buku atau dari media sosial pada artikel yang akan kita tulis agar terhindar dari plagiarisme ?


Sujarti_Bangka Tengah


Terima kasih pertanyaan yang membuka pengetahuan.


Mengutip dan menyebutkan sumber kutipan merupakan etika sekaligus penghormatan kepada penulisnya. Jika mengutip namun tidak mencantumkan sumbernya merupakan tindakan tidak terpuji bahkan bisa disebut sebagai pencurian kecil. 


Tulisan yang dipenuhi oleh kutipan juga tidak elok, mengapa? Karena pembaca ingin mengetahui pandangan penulis, bukan pandangan kutipan orang lain. Kendati demikian ada cara mengutip yang enak sehingga tidak terkesan salin tempel. Gunakanlah parafrase sehingga ada peran penulis dalam mengolah ide dan menyajikannya ke pembaca. 


Maksimal kutipan tidak lebih dari 30 % dari naskah.

==================


Semangat pagi, master.

Terima kasih atas kesempatannya untuk bertanya.


Sebagai penulis pemula, manakah yang benar. Menulis lah jgn takut salah atau tetap harus cermat, teliti, dibaca ulang, diedit lg sebelum dipublish tulisan tersebut. Terima kasih.


Erni Yuliati_Cilegon


Terima kasih pertanyaan yang kerap disampaikan oleh siapa saja yang ingin tulisannya bagus.


Jika menulis takut salah, maka tulisan akan gagal sebelum mekar. Karena perasaan salah akan menghantui selama proses menulis. Menulislah dengan cermat, teliti, bebas dari kesalahan namun tidak berarti saat menulis terus terusik dengan mengamati kesalahan terus menerus. Tulis saja dengan baik hingga ide habis dari kepala. Setelah itu baru rapikan lagi tulisan yang telah disusun. 


Jadi tidak bisa dipisahkan antara menulis dengan kecermatan, ketelitian, dan kehati-hatian. Namun jangan sampai menghambat pengaliran ide dalam menulis.

===================


Assalamualikum Master Eka. Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Rabb.

Izin bertanya Master. Bagaimana membuat tulisan yang berisi dan bernas. Bukan sekadar narasi biasa. Sebab menurut penulis sudah bagus namun kenyataan berkata tidak. 


Terima kasih master Eka. Barakallah.

Maya Safitri – Balikpapan


Terima kasih pertanyaan reflektifnya, 

Penulis tidka bisa mengklaim tulisannya sudah bagus atau tidak, yang akan menentukan tulisan itu bagus atau tidak ya pembacanya. Bisa jadi tulisan kita anggap jelek, ternyata pembaca suka dan merasa puas setelah membaca tulisan itu. Jadi tulisan kerap menemukan jalannya sendiri. Tugas penulis adalah menulis dengan sebaik mungkin, selanjutnya khalayak yang akan menilai.

=======================


Selamat pagi, Master.

Dalam menulis opini khususnya, mana yang lebih baik antara menulis secara blak-blakan dengan bahasa yang langsung bisa dicerna atau diselingi rangkaian kata yang maknanya harus dipikir sendiri oleh pembaca?


Luh Made Wardyaningsih_Gianyar


Terima kasih pertanyaannya, 

Menulis yang baik adalah tuisan yang bisa ditangkap maksudnya oleh pembaca. Jika pembaca masih kebingungan maka tujuan tulisan tidak sampai. Alias gagal. Apakah blak-blakan atau dengan penggunaan bahasa yang lebih rumit itu terkait cara. Banyak juga tulisan yang menjelaskan hal rumit namun penyajiannya enak dan mudah dicerna. Dan banyak pula tulisan yang isinya sejengkal namun pengungkapannya membuat dahi berkerut hati gundah.

==========


catatan kecil:


Penggunaan kata “Anda”, “saudara”, “kamu”, “saya”, dan “aku”


Perhatikan penggunaan kata |anda| untuk teman sebaya atau kepada staff. Namun jika disampaikan kepada atasan atau orang yang dihormati menjadi tidak elok dan kurang santun. 


Penggunaan |saudara| untuk sejawat atau rekanan. Atau pihak yang sederajat. Bukan kepada guru, pengampu atau orang yang lebih tua atau dihormati.


Kata |Kamu| untuk teman sebaya, akrab dan sudah terbiasa bergaul.


Kata |aku| untuk teman sebaya dan dekat, juga untuk menunjukkan kebanggaan. 


Kata |saya| menunjukkan kesopanan, merendahkan diri dan menghargai orang yang di ajak bicara.


======================





Tidak ada komentar:

Posting Komentar