Selasa, 21 April 2020

MENANAMKAN KONSISTENSI BELAJAR (Tugas Akhir KMA OP 20)

Seorang guru tak jarang dalam keseharian layaknya seorang juru taman.  Menghadapi suatu taman yang harus dikelola sehingga sedap dipandang mata.  Asri dirasakan oleh sang pemilik taman disebabkan benih yang disebar tumbuh sesuai harapan.  Namun tak jarang dalam proses menemukan adanya gulma ditengah indahnya taman.  Keyakinan bahwa semua benih yang ditabur akan sesuai harapan sedikit terusik dengan munculnya tumbuhan pengganggu ini.

Bagaimana saya menyikapi hal ini tentu sebagai guru dibutuhkan formula khusus dalam menanganinya.  Penanaman arti pentingnya belajar untuk anak diusia remaja sangat rentan dengan adanya berbagai hantaman saat ini.  Gempuran serangan gadget dan pola tingkah remaja yang mencari jati diri bagai tumbuhan pengganggu di tengah taman.  Menjadikan diri bukan hanya sebagai guru yang mendidik, mengajar dan membimbing namun sebagai tempat mereka curhat dan berbagi.  Saya pun  layaknya teman remaja mereka, menanamkan konsep apa sih pentingnya belajar? Berusaha menanamkan konsistensi belajar, memupuk kecintaan belajar.

Untuk mendukung kesimpulan itu saya mengemukakan beberapa hal yang menjadi kebiasaan mengajar di kelas dengan Program Studi Agribisnis Tanaman pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).  Beberapa hal yang dapat disimpulkan baik dari pembiasaan hingga penerapan model, metode maupun strategi pembelajaran.

Menanamkan motivasi tentang pentingnya belajar.  Hal ini menjadi formula pertama yang ditanamkan kepada siswa saya di kelas.  Membuang jauh-jauh pola pikir bahwa belajar itu membosankan, tidak menarik, mencatat lagi, ceramah lagi dan sebagainya.  Menghilangkan mindset negatif di alam bawah sadar dan memunculkan yang sebaliknya dari dalam diri (intrinsik) bahwa belajar juga bisa sambil fun seperti saat memainkan gadget.

Merubah paradigma para siswa bahwa esensi belajar bukan sekedar mencari nilai akademis.  Belajar tanpa diperintah orang lain.  Belajar bukan sekedar mau ujian.  Motivasi yang terbangun dari dalam diri membuat efek belajar bisa berlangsung lama bahkan seumur hidup.  Dorongan minat belajar yang berasal dari dalam diri akan membuat belajar menjadi menyenangkan, mengasyikan, seru bahkan bisa membuat ketagihan.

Literasi di awal pembelajaran selanjutnya menjadi pembiasaan saya di kelas.  Mereview, merangkum dan menyimpulkan pembelajaran sebelumnya secara tertulis dengan menggunakan bahasa mereka sendiri.  Pembiasaan yang dapat memupuk kelincahan merangkai kata dan kalimat bermakna.  Dirangkum dalam sebuah bentuk portofolio.  Siswa menikmati kebebasan belajar ibarat menikmati asrinya bunga ditaman. 

Selanjutnya, pemberian contoh konkret dalam kehidupan nyata tentang suatu materi yang sedang dipelajari.  Dalam proses kegiatan belajar mengajar, Program studi Agribisnis Tanaman sebagai salah satu jurusan pada SMK memberikan porsi yang lebih besar untuk kegiatan praktek dibanding teori.  Kunjungan langsung ke lahan praktek atau green house, mempraktekkan teknik budidaya tanaman yang benar, menemukan hal baru melalui praktikum di laboratorium, merupakan contoh-contoh nyata penerapan suatu teori.   Sehingga usaha untuk memahami konsep terasa lebih ringan.

Guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu.  Buku, literatur, internet dan lingkungan belajar menjadi sumber pengetahuan bagi siswa.  Mengulik banyak kejadian dan pengalaman praktis yang mungkin tidak diajarkan di kelas.  Pengalaman dalam penemuan-penemuan di lapangan akan membekas dalam memori yang menjadi penentu dalam pemahaman siswa.

Hal berikut yang menjadi kegiatan dalam kelas saya yakni menulis laporan praktek.  Penulisan laporan sederhana namun lebih sistematis.  Dimulai dari penetapan judul, menganalisis tujuan, karakteristik alat dan bahan, cara kerja, hingga uraian tentang hasil praktek.  Hal ini bisa memupuk jiwa literasi dan memperkaya kosa kata.  Selain penanaman konsep yang makin matang.

Disetiap akhir pembelajaran praktek selalu dilakukan pembiasaan mempresentasikan laporan.  Melatih siswa mentransfer ilmu ke orang lain.  Saling menghargai pendapat.  Menerima sumbang saran dari teman sekelompok.   Melatih siswa mengungkap setiap elemen dari unsur yang dipelajari dalam bentuk verbal.    Membebaskan siswa mengeksplor apa yang tidak terungkap dalam laporan praktek.

Menjaga konsistensi belajar tidaklah mudah.  Ibarat menjaga istiqamah dalam ibadah harus dibarengi dengan niat tulus dari dalam hati.  Seberapa penting belajar itu.  Kuncinya ada pada diri siswa itu sendiri.  Kemampuan mengontrol diri sendiri (self control) agar tetap konsisten pada setiap tujuannya.  Menghindari hal-hal yang mengalihkan fokus, menentukan hal yang lebih prioritas, dan sebagainya.  Kita sebagai guru wajib memupuk konsistensi itu melalui pembiasaan dan penerapan metode, model dan strategi pembelajaran yang variatif. 



-------------------------------------syl---------------------------------
22 Maret 2020
Tugas akhir KMA OP 20 "Dua suara dalam benak guru : Seorang Pengawal atau Juru Taman?"
Sebuah buku antologi karya guru senusantara dari berbagai jenjang sekolah. Diterbitkan oleh Yayasan Anak Bangsa Indonesia - Kota Bogor



Tidak ada komentar:

Posting Komentar